Header 11111

Peresmian Rumah Produksi Mekarsari oleh Dirjen IKM

 

Ratusan petani pisang Agung di Jawa Timur, sepakat menobatkan Ida Widyastuti sebagai "Ratu Pisang" (Queen of Banana), karena jasa-jasanya mengangkat harkat petani pisang. 

 

Penobatan "Ratu Pisang" dilakukan bersamaan peresmian rumah produksi Mekarsari Sabtu (13/10/2012), disaksikan Dirjen 

Pengembangan Industri Kecil Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Hj Euis Saidah.

 

Ida Widyastuti terharu atas penghargaan itu. Dia bangga bisa bermitra dengan 300 petani pisang di Jawa Timur. Menurutnya, sebagian petani pisang di Jawa Timur, kini tak perlu lagi cemas menghadapi panen raya. Karena seluruh hasil panennya dibeli langsung oleh Kelompok Usaha Bersama (KUB) Mekarsari.

 

Sebelumnya, hasil panen petani bergantung pada tengkulak yang kondisi harga dan permintaan pasarnya tak dapat diprediksi. Namun, sejak berdirinya KUB Mekarsari, para petani merasa aman dengan hasil panennya. Karena KUB membeli seluruh hasil panen pisang untuk diolah menjadi camilan (snack).

 

Ribuan pohon pisang Agung yang menjadi bahan baku camilan itu ditanam di lahan perbukitan seluas lebih 200 hektare. Lahan tersebut dikerjakan oleh 10 kelompok petani dengan jumlah petani per kelompok rata-rata 30 orang.

 

Tiap kelompok petani lahan garapannya satu hektare yang di atas lahannya ditanami 2.000 pohon pisang Agung. Hasil panennya dibeli KUB Mekarsari untuk diproduksi menjadi aneka camilan (snack) berupa opak pisang dan keripik pisang yang diolah menjadi sembilan varian rasa.

 

Camilan berbahan baku pisang untuk memenuhi pasar dalam negeri dan ekspor ke Singapura, Malaysia, Philipina, China, dan Turki. Bentuknya berupa keripik pisang dan opak pisang dengan rasa balado, barbeque, pisang gurih, ayam bakar, dan schrimpt. 

 

Sukses bisnis keripik pisang dan opak pisang itu membuat para petani bangga atas hasil tanaman mereka. Karenanya, para petani pisang Agung binaan Mekarsari menobatkan anugerah kepada Ida Widyastuti, pengusaha rumah snack Mekar Sari, sebagai Ratu Pisang (Queen of Banana), belum lama ini.

 

"Petani pisang di sini puas dan tidak cemas lagi dengan hasil panennya. Karena, panen kami dibeli langsung dan diproduksi menjadi camilan," ujar Sukari, salah satu petani binaan Mekarsari, Minggu (21/10/2012). Sukari mengaku telah tiga tahun ini menanam pisang Agung di lahan garapannya. Dia memiliki sekitar 200 tanaman pisang.

 

Menurutnya, harga pisang Agung dibeli koperasi Mekar Sari Rp 2.500 per kg. Harga tersebut sesuai dengan harga yang berlaku di masyarakat. Tiap tandon, rata-rata berbobot 10 kg, sehingga hasil akhirnya mencapai Rp 25 ribu untuk tiap tandon per pohon. Bila Sukari memiliki 200 pohon, maka panen yang didapat sebesar Rp 5 juta. Pohon pisang memiliki masa panen tiap empat bulan sekali.

 

"Sebelum ada koperasi, penjualan pisang berhubungan langsung dengan tengkulak. Kondisi harga tidak menentu, dan permintaan pasar tidak jelas, sehingga terkadang banyak pisang yang terbuang sia-sia," jelas Sukari yang mengaku hidupnya kini lebih terjamin dengan menanam pisang Agung.

 

Ida Widyastuti terharu atas penghargaan "Ratu Pisang" (Queen Banana) dari petani yang menjadi mitra kerjanya. Tanpa disadari, Ida ikut menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.

 

Selain bermitra dengan 300 petani, Ida juga membangun rumah produksi untuk mengolah kripik pisang dan opak pisang yang mempekerjakan 80 tenaga kerja setempat. 

 

Tiap hari, kebutuhan bahan baku pisang agung sebanyak 10 ton dipasok oleh petani setempat. Kedua jenis camilan tersebut, 75 persennya untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. Sisanya untuk ekspor ke Singapore, Malaysia, Philipina, Cina dan Turki.

© 2012 Mekarsari Snack. All Rights Reserved. Powered by Web Design Development Surabaya.